Sabtu, 03 Desember 2011

SOP Cara Menghangatkan Bayi

Ini adalah foto waktu pelatihan NOELS (Neonatal Obstetri Emergency Life Support) di RSUD dr. Muwardi Surakarta


1. RUANG LINGKUP

Hipotermi terjadi jika suhu tubuh bayi kurang dari 36.5oC pada pengukuran suhu melalui ketiak. Suhu tubuh rendah dapat disebabkan karena terpapar lingkungan yang dingin atau bayi dalam keadaan basah dan tidak berpakaian.

2. TUJUAN

2.1. Menjaga suhu tubuh normal bayi (36.5oC – 37.5oC)

2.2. Mencegah terjadinya hipotermi pada BBL

3. INDIKASI

3.1. Dilakukan pada BBL termasuk bayi kurang bulan, BBLR dan BBLSR

3.2. Tidak untuk bayi sakit berat (sepsis, gangguan napas berat)

4. KEBIJAKAN

4.1. BBL dengan hipotermi mendapatkan penanganan secepatnya

4.2. BBL tidak mengalami hipotermi

5. PETUGAS

Perawat dan bidan puskesmas

6. PERALATAN

6.1. Alat pemancar yang siap pakai

6.2. Ruang / kotak penghangat

6.3. Inkubator

6.4. Kain bersih, kain kering 2 buah

6.5. Penutup kepala, kaos tangan dan kaos kaki

6.6. Alat pengukur suhu tubuh (termometer)

6.7. Alat pengukur suhu ruangan

6.8. Alat pengukur berat badan

7. PROSEDUR

7.1. Melakukan pengukuran suhu tubuh di ketiak

7.1.1. Termometer dicuci dengan air dan sabun, keringkan ujungnya

7.1.2. Letakkan bayi terlentang atau miring

7.1.3. Kibaskan termometer agar penunjuk temperature berada pada 35oC

7.1.4. Letakkan ujung termometer di apeks aksila selama 5 menit

7.1.5. Baca hasil pengukuran temperature tubuh dan bila hasilnya kurang dari 35oC, gunakan cara rektal

7.2. Melakukan pengukuran suhu di rektal

7.2.1. Termometer dicuci dengan air dan sabun, lalu keringkan ujungnya

7.2.2. Letakkan bayi terlentang atau miring

7.2.3. Olesi anus /rektum bayi dengan cairan pelicin / vaselin

7.2.4. Kibaskan termometer hingga indikator temperature berada di bawah 35oC

7.2.5. Letakkan ujung termometer di dalam anus sedalam 2 cm, tunggu selama 3 menit (jangan tinggalkan bayi dengan termometer di dalam anus)

7.2.6. Ambil termometer dan baca hasilnya

7.2.7. Cuci kembali termometer dengan air dan sabun, keringkan, kemudian simpan kembali di tempatnya.

7.3. Melakukan penghangatan suhu tubuh dengan cara KONTAK KULIT dengan KULIT

7.3.1. Lekatkan kulit bayi pada kulit ibu / orang lain, diusahakan bayi dalam keadaan telanjang menempel pada kulit ibu

7.3.2. Suhu ruangan minimal 25oc

7.3.3. Ukur temperature tubuh bayi 2 jam setelah kontak kulit. Bila suhu < 36.5oC, periksa kembali bayi dan tentukan langkah selanjutnya

7.3.4. Ajari ibu cara menyusui dan perlekatan yang benar

7.3.5. Bila ibu cemas tentang pemberian minum pada bayi kecil, motivasi ibu agar mampu melaksanakannya

7.3.6. Bila ibu tidak dapat menyusui, berilah ASI perah dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberan minum.

7.4. Memantau pelaksanaan Kangaroo Mother Care (KMC) dengan benar

7.4.1. Pakaikan bayi topi, popok, kaos kaki yang bersih, kering untuk jaga kehangatannya

7.4.2. Letakkan bayi di dada ibu dengan posisi kepala tegak langsung ke kulit ibu, posisikan bayi dalam ‘’Frog Position’’ yaitu fleksi pada siku dan tungkai, kepala dan dada bayi terletak di dada ibu dengan posisi agak ekstensi

7.4.3. Tutupi bayi dengan pakaian ibu ditambah selimut yang bersih dan kering untuk menjaga kehangatan bayi.

7.4.4. Pantau dan nilai jumlah ASI yang diberikan setiap hari. Bila ibu menyusui, catat waktu ibu menyusui bayinya

7.4.5. Timbang BB bayi setiap hari dan nilai peningkatannya

7.4.6. Jelaskan pada ibu mengenai pola pernapasan dan warna kulit bayi normal serta kemungkinan variasinya yang masih dianggap normal

7.4.7. Mintalah kepada ibu untuk waspada terhadap tanda yang tidak biasanya ditemui atau tidak normal

7.4.8. Ajari ibu cara menstimulasi bayi (mengelus dada atau punggung, atau menyentil jari kaki bayi) bila bayi tampak biru di daerah lidah, bibir atau sekitar mulut atau napas berhenti lama.

7.4.9. Bila KMC tidak dapat dilakukan terus menerus, ukur suhu aksila setiap 6 jam

7.4.10. Bila temperature normal selama 3 hari berturut-turut, pengukuran dilakukan tiap 12 jam selama 2 hari kemudian hentikan pengukuran

7.4.11. Bila temperature abnormal, tentukan langkah selanjutnya.

7.5. Menggunakan RUANGAN HANGAT dengan cara yang benar

7.5.1. Pastikan suhu ruangan paling rendah 26oC

7.5.2. Pastikan bayi dalam pakaian yang hangat

7.5.3. Letakkan bayi di dalam boks, jauhkan dari dinding yang dingin atau aliran udara (jendela, pintu)

7.5.4. Ukur temperature tubuh bayi dan ruangan 4 kali sehari

7.5.5. Suhu ruangan yang dianjurkan menurut berat bayi:

7.5.5.1. Berat Badan 1500- 2000 gr = 28 – 30oC

7.5.5.2. Berat Badan > 2000 gr = 26 – 28oC

7.5.6. Pada waktu malam hari, tambahkan penghangat

7.5.7. Jangan digunakan untuk bayi dengan BB < 1500 gr

7.6. Melakukan penghangatan suhu tubuh dengan PEMANCAR PANAS dengan baik

7.6.1. Hangatkan ruangan (minimal 22oC) dimana alat pemancar panas diletakkan

7.6.2. Bersihkan matras dan alas, tutup alas dengan kain bersih sebelum bayi diletakkan di bawah pemancar panas

7.6.3. Nyalakan alat dan atur suhu sesuai petujuknya (biasanya antara 36- 37oC). Bila alat bisa disiapkan sebelum bayi datang, nyalakan alat untuk menghangatkan linen dan matras terlebih dahulu

7.6.4. Sebelum bayi lahir/ datang, sebaiknya selimut dihangatkan di bawah pemancar panas, agar bayi tidak kedinginan karena diletakkan di alas yang dingin. Bayi hendaknya dibungkus atau diberi pakaian, kecuali bila akan dilakukan tindakan, bayi dibiarkan telanjang atau setengah telanjang

7.6.5. Pindahkan bayi ke ibu sesegera mungkin bila tidak ada tindakan atau pengobatan yang diberikan.

7.7. Melakukan perawatan INKUBATOR

7.7.1. Hangatkan inkubator sebelum digunakan

7.7.2. Suhu inkubator yang direkomendasikan menurut berat dan umur bayi

Berat bayi

Suhu inkubator (oC) menurut umur

35oC

34oC

33oC

32oC

<1500 g

1-10 hr

11 hr- 3mg

3-5 mg

>5 mg

1500-2000 g

1-10hr

11 hr- 4mg

>4 mg

2100-2500 g

1-2 hr

3hr-3 mg

>3 mg

>2500 g

1-2 hr

>2hr

7.7.3. Bila jenis inkubatornya berdinding tunggal, naikkan suhu inkubator 1oC setiap perbedaan suhu 7oC antara suhu ruang dan inkubator

7.7.4. Bila diperlukan melakukan pengamatan seluruh tubuh bayi atau terapi sinar, lepas semua pakaian bayi dan segera diberi pakaian kembali setelah selesai

7.7.5. Tutup inkubator secepat mungkin, jaga lubang selalu tertutup agar inkubator tetap hangat

7.7.6. Gunakan satu inkubator untuk satu bayi

7.7.7. Periksa suhu inkubator dengan menggunakan termometer ruang dan ukur suhu aksila bayi tiap jam dalam 8 jam pertama, kemudian setiap 3 jam

7.7.8. Bila suhu aksila < 36.5oC atau > 37.5oC, atur suhu inkubator secepatnya

7.7.9. Bila suhu inkubator tidak sesuai dengan suhu yang sudah diatur, maka inkubator tidak berfungsi dengan baik. Atur suhu inkubator sampai tercapai suhu yang kita kehendaki atau gunakan cara lain untuk menghangatkan bayi

7.7.10. Bila bayi tetap dingin walaupun suhu inkubator telah diatur, lakukan manajemen suhu tubuh abnormal

7.7.11. Pindahkan bayi ke ibu secepat mungkin bila bayi sudah tidak menunjukkan tanda-tanda sakit.

8. REFERENSI

Direktorat Bina Kesehatan Keluarga. 2008. Paket Pelatihan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED). Jakarta: Depkes RI




semoga berguna yaaaa,,, :D



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share it